ABSTRAK
Kekecewaan emosional sebab patah hati acapkali berbuah tekanan psikologis, penurunan motivasi hidup dan gangguan pada keseimbangan efektif personal. Dalam lanskap emosional batin yang patah hati, beberapa jiwa bergantung bukan kepada teori-teori psikologi, melainkan kepada hal-hal sederhana bahkan bare minimum yang tidak pernah beranjak meninggalkannya saat diterjang nestapa.
Mengkonsumsi mie ayam, kopi dan praktik adorasi ialah aktivitas reflektif-kontemplatif berlandaskan apresiasi diri atas luka. Aktivitas medium semacam ini merupakan entitas sederhana namun fundamental dalam proses pemulihan emosi pascapatah hati.
Pemilik jiwa yang patah hati (nona siregar) menyatakan bahwa Mengunyah mie ayam memberikan efek grounding melalui rasa kenyang, lega dan tubuh yang patah hati seakan dipeluk memori kolektif kebahagiaan semasa hidup kala utuh; Menyeruput kopi mengambil bagian peran selaku sarana dialog intrapersonal, tiap tegukan memanggil kesadaran, membijaksanai patah hati dan menghadirkan forum dialog antar diri yang patah hati dan diri yang tengah belajar sembuh sendiri. Sedang, semangkuk adorasi tampil sebagai ritual internal untuk memulihkan harga diri-menjadi upacara sunyi untuk menerima kehilangan, serta upaya pengembalian martabat hati.
Triad combo ini menjahit tenunan sederhana namun mendalam (sebagai terapi informal, nonklinis dan mudah diakses dalam proses perbaikan kondisi psikologis), menunjukkan bahwa penyembuhan pascapatah hati tidak melulu datang dari intervensi medis atau diksi-diksi psikiater;
terkadang ia lahir dari mie ayam dan kopi favorit serta ritual sunyi yang mengembalikan esensi semangat hidup.
Jurnal dari (jiwa yang patah hati milik nona siregar) ini menegaskan bahwa pemulihan batin pascapatah hati pada akhirnya adalah perjalanan pulang menuju diri sendiri dan aktivitas murahan nyatanya bisa menjadi penopang fundamental bagi stabilitas emosi atau menjadi kuil terindah untuk merawat jiwa yang patah atau bahkan lebih parah “luluh lantah”.
PENDAHULUAN
Tidak ada insan yang tumbuh tanpa luka dan tidak ada jaminan atas rasa kagum tanpa kehilangan. Patah hati tidak merobek kulit tetapi merobek arah hidup. Di dalam keterpurukan emosi, jiwa yang patah hati mencari topangan yang mampu menampung segenap lukanya.
Dalam riwayat emosional manusia, patah hati bukanlah anomali namun merupakan naskah ketetapan Tuhan yang menyambangi setiap jiwa setidaknya sekali per seumur hidup. Patah hati memutus arah, menghampakan dada bahkan menghapus makna sang pengidapnya. Namun, di tengah kenestapaan itulah muncul satu pertanyaan besar tentang “Kemana jiwa yang patah hati itu mencari pereda kala semesta runtuh dari dalam dadanya?”
Sebagian jiwa yang patah hati itu berlindung dalam puja-puji
kepada sang Maha Esa, sebagian dalam pelarian yang tiada berujung dan sebagian lagi berlarut-larut dalam tangis yang terisak-isak. Ditengah gelombang psikoterapi modern, acapkali jiwa yang patah hati menemukan pelipur lara justru pada hal-hal sederhana. Pengidap patah hati banyak yang secara diam-diam menemukan penawar laranya dari hal-hal kecil yang tidak diagungkan ilmu psikologi era ini.
Makan mie ayam gerobakan di pinggir jalan, menyeruput kopi di teras Indomaret, menerobos hujan tanpa mantel atau sekedar bercengkrama dengan diri sendiri di pojok bilik sunyi sembari memaknai bahwa itu merupakan perdamaian dengan luka dan tidak menyalahkan kehadirannya dalam dada.
Maka itulah esensi yang coba diungkapkan (nona siregar) dalam diksi-diksi “upaya peromantisasian luka” yang coba disamarkan dalam jurnal (jiwa yang pahat hati) ini, meski upaya penyamaran itu sama sekali tidak membuahkan hasil.
METODE PENULISAN
Pada proses penulisan Jurnal Apresiasi Luka ini menggunakan metode penulisan yang bersumber dari imajinasi, realitas dan pikiran penulis (nona siregar) sendiri serta tidak lupa melibatkan dialog-dialog sunyi dengan Tuhan. Data yangdimuat diperoleh berdasarkan hasil perenungan realitas dan kejadian alamiah yang dirasakan penulis selama kurun waktu hampir 5 (lima) tahun lamanya.
Berawal dari patah hati atas rasa kagumnya sendiri, jiwa (nona siregar) yang patah hati tersebut melakukan berbagai upaya penyelamatan diri dari keterpurukan emosional. Di sela-sela meromantisasi luka keterpurukan, alih-alih menempuh jalur medis, klinis dan sejenisnya yang berbau papar modern melainkan jiwa (nona siregar) yang patah
hati tersebut menemukan obat nonmedis, nonklinis bagi pemulihan jiwanya.
Memasukkan beberapa lembar rupiah dan gumpalan patah hati ke dompet lalu nyambangi gerobak mie ayam di pinggir jalan; Memberikan kode Qris Brimo kepada kasir lalu duduk tenang di kursi besi tepatnya di teras Indomaret ternyata memiliki efek fundamental terhadap pemulihan jiwa yang tengah patah hati.
Dan upaya lainnya adalah tetap menjumpai Tuhan pukul 3 (tiga) pagi sebagai upaya permohonan ampun atas ketidaksanggupan mengontrol rasa kagum kepada ciptaan-Nya yang lain
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dari penelitian ini ditinjau dari intensitas patah hati yang
dialami oleh (nona siregar) baik semasa kagum hingga pada saat patah hati bahkan pascapatah hati. Oleh sebab itu, penulis (nona siregar) akan merangkai dengan segenap hati hal-hal terkait.
MIE AYAM – SEMANGKUK PELUK
Jiwa yang tegah patah hati merasakan bahwa mie ayam bukan lagi sekedar sajian dengan toping bawang goreng melainkan, wujud peluk dengan kehangatan kuah, aroma yang menenangkan serta sensasi kenyang yang menciptakan stabilitas. Tubuh yang berpatah hati terselamatkan dihadapan semangkuk mie ayam hangat yang mengembalipulihkan puing-puing jiwa yang hilang arah, hilang makna atau jiwa yang hampa.
Mie ayam bukan semata nutrisi, malainkan ialah bahasa
tubuh yang mendekap erat sembari berkata “Engkau tetap anggun meski kagummu tak berbalas, nona..”
SECANGKIR KOPI – DIALOG SUNYI
Saat semesta terasa berlalu begitu cepat, secangkir kopi
memperlambat dengan tempo sepelan-pelannya, sekedar untuk mendengarkan diri sendiri berucap “jiwa-ku tengah patah, jiwaKu tengah sakit dan itu tidak apa-apa.” Secangkir kopi memberi kesempatan kepada diri untuk berdialog dengan bagian jiwa yang patah. Kemudian dialog itu menyimpulkan bahwa justru dalam tegukan kopi yang pahit, jiwa yang patah itu berani mengakui rasa sakit. Ia (secangkir kopi) memperlambat waktu dan ketika waktu melambat pikiran dan perasaan (nona siregar) bisa mencuri kedamaian.
Secangkir kopi bukan semata sajian tegukan pahit
melainkan, ialah ruang dialog antar jiwa yang tengah patah hati dengan penyangkalan-penyangkalan, serta antar jiwa yang tengah patah hati dengan perenungan-perenungan dalam yang berujung penerimaan takdir Tuhan.
ADORASI – UPACARA PEMULIHAN MARTABAT HATI
Dalam bab adorasi, jiwa yang patah hati (nona siregar) duduk
sebagai makhluk rapuh yang berharga. Adorasi memungkinkan para pengidap patah hati untuk menghormati diri sendiri bukan menolak luka tetapi mengizinkan diri untuk terluka dengan elegan. Adorasi tidak dimaknai sebagai penyembahan akan Penguasa Mutlak Atas Rasa tetapi penghormatan kepada jiwa yang terluka namun tetap anggun dan elegan serta tetap hidup.
Adorasi bukan semata penghambaan kepada Tuhan
melainkan, ritual intim jiwa yang patah hati untuk menyadari
bahwa diri tetap bernilai meski patah (bersifat reflektif, tidak
teologis, dan berbasis penerimaan diri).
KESIMPULAN
Jiwa yang patah hati tidak sembuh karena lupa tetapi jiwa yang patah hati sembuh karena ingat lalu memberanikan hidup setalah itu. Dalamproses penyembuhan luka patah hati, hal-hal sederhana membuat kita merasa kembali menjadi manusia.
Pemulihan pascapatah hati ialah perjalanan pulang ke tubuh yang hangat ceria, pikiran yang jujur dan hati yang dihormati setinggitingginya.
Di antara kesederhanaan mie ayam, kopi dan adorasi, jiwa yang patah hati kembali menemukan dirinya lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Bersumber dari;
Jiwa yang patah hati = Nona Siregar
Nona Siregar = Jiwa yang patah hati