Selasa, 16 Juni 2026

Budiman Sudjatmiko juga Manusia: Butuh Makan juga Kopi


Sejarah acapkali menjumpakan seseorang dengan versi dirinya di masa lalu. Kemudian, dalam perjumpaan itu seringnya mengundang perdebatan idealisme dan akhirnya mengesampingkan peluk kangen-kangenan. Per tiap generasi selalu membayangkan bahwa para aktivis adalah manusia yang kebal terhadap rezim, seakan-akan ketika seorang aktivis setelah meneriakkan demokrasi di jalanan Ibukota dan merasakan dinginnya ubin sel tahanan, maka seorang aktivis akan selamanya hidup dari idealismenya. Padahal logika sederhananya, para aktivis yang sudah tidak lagi turun ke jalan itu juga butuh makan, butuh kopi dan pada titik tertentu mengharuskan mereka berkompromi dengan realitas politik yang sejatinya tidak sesederhana slogan demonstrasi.

Kacamata lintas generasi memang selalu berbeda-beda dalam memandang biografi perjuangan dengan pilihan jalan politik aktivis seniornya/para pendahulu mereka di jalanan. Generasi hari ini (sebagian) tidak akan pernah setuju dengan pergerakan/ perjuangan reformasi dengan cara melibatkan diri dengan pemerintah seperti yang dilakukan Budiman Sudjatmiko hari ini. Pola yang, sama akan terulang. Para aktivis yang meneriaki Budiman Sudjatmiko hari ini juga akan dikuliti habis-habisan oleh generasi berikutnya di masa yang akan datang. Dan akan begitu seterusnya. 
"Setiap generasi akan mengadili generasi aktivis sebelumnya berdasarkan standar moral dan politik yang mereka yakini".

Realitas politik Budiman Sudjatmiko hari ini adalah dirinya tidak lagi berbicara dari luar pagar sebagaimana yang ia lakukan pada masa mudanya. Ia memilih masuk ke dalam sistem dan menjadi bagian dari pemerintahan.

Karya yang ditulis olehnya dengan judul Anak-Anak Revolusi, Budiman Sudjatmiko menulis begini : "Jika kami kalah dan mati, kutuklah.... (itu masih lebih baik daripada dilupakan)" , Halaman 448.
Sepintas menyiratkan bahwa perjuangan-perjuangan pada kondisi politik kala itu yang dilakukan olehnya dan rekan- rekan, tidak boleh dilupakan oleh siapapun dan oleh generasi kapanpun. Pun demikian generasi hari ini, pil pahit yang harus ditelan oleh para pelaku sejarah "para aktivis lintas generasi" itu adalah bahwa generasi kritis hari ini yang mempertanyakan apakah mereka, apakah Budiman Sudjatmiko muda masih sama dengan Budiman Sudjatmiko sekarang?. Apakah, apakah dan apakah lainnya yang menjadi polisi moral bagi para pelaku sejarah khususnya Budiman sendiri.

Buku dengan ketebalan empat ratusan lebih halaman itu berangkat dari realitas dirinya sebagai aktor di luar pagar/di luar sistem/outsider yang mendobrak tembok kekuasaan dan mengganggu nyenyak tidak penguasa masa itu. Aksi-aksi heroik yang nyata, melawan militerisme orde baru tanpa senjata dan luka-1uka membekas yang bisa kita rasakan sehabis membaca tulisan tangannya.
Namun, romantisme perjuangan hari ini digaungkan sebagai polisi moral baik kepada Budiman Sudjatmiko maupun aktor perjuangan lainnya. Keselarasan dan cita-cita perjuangan masa lampau dan kompromi politik hari ini bukan lagi menjadi culture shock bagi generasi kritis era ini. Pertanyaan apakah dan apakah yang datang dari kerongkongan mahasiswa di luar pagar hari ini dengan sigap disauti oleh mereka, begini : "Jika ingin memperbaiki sistem dan merubah kebijakan secara konkret, kita harus masuk ke sistem itu dan memegang kemudi kekuasaan, bukan sekedar berkoar-koar di luar pagar". "Romantisme jalanan itu ada masanya" (sederhananya begitu kira-kira).


Teriakan semacam "Pengkhianat Reformasi" rasanya kurang elok disematkan dan disebut-sebut atau ditujukan kepada para aktor sejarah, terlepas hari ini di mana posisi duduk dan titah karir atau jalan politik pilihan mereka.
Aktivis reformasi juga adalah orang yang memiliki cita-cita dan jalan untuk mewujudkan cita-cita tersebut berbeda-beda kerikil dan bebatuannya. Dinamika terjal kehidupan mungkin menghadapkan bahkan mengharuskan mereka untuk bernegosiasi dan berkompromi politik dengan penguasa yang tak dapat dihindarkan. Sebab sejatinya mereka juga adalah manusia biasa. Merekajuga adalah seorang ayah, seorang suami atau seorang anak yang tengah struggle.

Riwayat perjuangan para aktivis yang pernah kita baca dokumen sejarahnya, pernah kita tonton film dokumenternya atau barangkali pernah kita dengarkan langsung dari mulut mereka, akan menjadi epic kalau dijadikan sebagai bahan atau alat bagi kita untuk mengingatkan mereka dikala lupa diri ketika sedang ataupun tidak berkuasa.

"Tak apa menjadi polisi moral bagi para aktivis yang tengah berkuasa. Jika romantisme jalanan ada masanya, maka kekuasaan senior mesti ada batasnya".


Oleh: nonasiregar
Padangsidimpuan, Nusantara.

Tidak ada komentar:

Budiman Sudjatmiko juga Manusia: Butuh Makan juga Kopi

Sejarah acapkali menjumpakan seseorang dengan versi dirinya di masa lalu. Kemudian, dalam perjumpaan itu seringnya mengundang pe...