Jumat, 08 April 2022

Sebut Saja Ia PSK

Aku melihat perempuan itu menggendong lukanya di pinggir jalanan ibu kota __ 
Mengelap gincu merah dibibir dengan jempol kanannya __
Memegang erat tas yang sengaja di sandang di bahunya __
Dan menenteng sebatang rokok sempurna sisa __

Sepertiga malam ketika orang-orang suci melaksanakan ibadah perempuan itu mulai menyayat luka di tubuhnya __ 
Sepertiga malam ketika orang-orang suci menundukkan kepala bersujud pada Tuhan-Nya perempuan itu mendongak kepala tegak keatas merangsang nikmat dan luka __
Sepertiga malam ketika orang-orang suci berdoa dengan tangan menadah perempuan itu basah akan keringat atas nama nafkah __

Ayam berkokok laksana isyarat luka akan di jeda __
Bersimbah luka tanpa pembalut dan obat merah perempuan itu pulang dengan senyum dan sumringah __

Perempuan itu di sambut si buah hati sulungnya dengan lembar kwitansi spp sekolah yang menumpuk __ 
Perempuan itu di sambut si buah hati bungsunya dengan botol susu yang kosong di tangan kirinya __
Dan perempuan itu mendapati seorang lelaki sebayanya berpakaian tidak rapi telentang di bawah ranjang dengan sebotol Vodka tak sadarkan diri __

Sekarang aku menjadi tahu, 
Bahwasanya beberapa waktu silam perempuan itu salah memilih kapal menuju sebuah pulau __
Kapal yang salah itu berjenis laki-laki bernama suami dan pulau itu bernama bahtera rumah tangga __

Dan sekarang aku menjadi tahu dan menaruh iba pada perempuan itu __
Perempuan bergelar psk yang menanam luka di tubuhnya atas nama kebutuhan keluarga __ 


"sebut saja ia psk"
Oleh: Nona siregar, S.H __

2 komentar:

Nahar Frakasiwi mengatakan...

Like it

Nahar Frakasiwi mengatakan...

Menanti Tuan berkantong tebal. Seorang perempuan itu selalu punya celah untuk berkorban. Like it puisinya

Budiman Sudjatmiko juga Manusia: Butuh Makan juga Kopi

Sejarah acapkali menjumpakan seseorang dengan versi dirinya di masa lalu. Kemudian, dalam perjumpaan itu seringnya mengundang pe...