Sepekan terakhir pilu kembali singgah di ibu pertiwi ..
Reputasi dan citra sebuah instansi lagi dan lagi di uji ..
Sebab satu kasus yang cukup meremukkan hati nurani ..
Sepekan terakhir luka tampak dari wajah sekeluarga yang sederhana ..
Pahlawan keluarga berseragam lengkap kali ini pulang berkeranda ..
Satu jasad tak bernyawa mengetuk pintu rumah membawa kejanggalan-kejanggalan di dalam petinya ..
Bermula dari peti jenazah yang tak boleh di buka,
Lanjut prosesi pemakaman yang tak sepatutnya,
Hingga autopsi ulang yang meluluh lantakkan jiwa,
Tangan, bahu, dada serta kepala bekas tembak senjata ..
Sekujur tubuh penuh dengan luka yang memicu ragam praduga,
Mengapa ada manusia yang tak berperikemanusiaan?
Apa sebenarnya motif dan tujuan?
Mengapa begitu bengis dan kejam?
Dan jajaran pertanyaan lainnya berkeliaran dan di cuitkan..
Bukan atas nama bangso batak "marga Hutabarat" sajak ini di rangkai ..
Bukan atas nama satu suku "suku Batak" kidung pilu ini di tuliskan ..
Bukan juga atas nama satu agama "agama Kristen Protestan" puisi lara ini di catatkan ..
Namun .. deretan kata-kata pada sajak ini di pungut dari air mata sang ibu yang bercucuran ..
Sedang kalimat-kalimat pada sajak ini di kutip dari ketegaran sang ayah yang dibelenggu rasa kehilangan ..
Karena Atas Nama Kemanusiaan Sajak Nestapa ini Ku Abadikan ..
Karena Atas Nama Keadilan Sajak Nestapa ini merupakan satu Kritikan ..
____________
Oleh: Nona siregar, S.H
Kota Padang Sidempuan,
(Alfatihah untuk Brigadir Nofriansyah Yhosua Hutabarat alias Brigadir J)
____________
2 komentar:
Mantap.
Teruslah berkarya.
“Kematian adalah hal yang menyakitkan tapi kematian itu pula yang dapat merubah orang lain.”
Masyaallah, Semangat berkarya kak
Posting Komentar