Atas nama perempuan-perempuan yang dilecehkan keadilan masih dipertanyakan,
Tumpukan kasus pelecehan terhadap kaumku di gerogoti rayap dan dibiarkan usang,
Kemana hendak mengadu jika polisi juga betindak sebagai pelaku?
Kepada siapa hendak melaporkan kekerasan jika sang penegak hukum tebang pilih kasus mana yang mau didahulukan dan kasus siapa yang masuk dalam daftar antrian panjang.
Perempuan cantik meregang nyawa di pusara lelaki yang tidak pernah menggoreskan luka ialah cinta tulusnya yang pertama di dunia..
Ibu muda diperkosa dengan suka-suka dihadapan bayi mungilnya yang masih merah merona..
Mahasiswi dilecehkan sang dosen lalu tak diikutkan yudisium karena laporannya..
Dan deretan mahasiswi-mahasiswi lainnya yang mendapat perlakuan sama namun tidak berani buka suara..
Santriwati-santriwati yang menuntut ilmu dihamili oleh seorang lelaki berpakaian rapi dan suci lengkap peci..
Remaja belia disetubuhi beramai-ramai oleh keluarganya sendiri..
Bukan rumah bukan juga sekolah, berbagai tempat kini tak lagi ramah,
Tidak pondok tempat nyantri tidak juga perguruan tinggi, semua tempat tak begitu aman bagi kaum ku kini,
Lewat isu yang viral daku memprotes,
Lewat tweet demi tweet dan tagar-tagar perlawanan,
Lewat berbait-bait puisi daku mengkritik,
Sebab tulisanku ialah sebentuk perlawanan,
Karena daku perempuan!
Padangsidimpuan Tenggara
Oleh: M. Siregar
6 komentar:
Sepakat...... demi deretan keadilan yang telah ditenggelamkan, kita butuh perlawanan......
Truslah berkarya dah sehat sllu
Trus berkarya dan sehat sllu
Trus berkarya dan sehat sllu
Bukan pondok pesantren tapi bording school yang di asrama kan
Tetap menginspirasi dalam perlawanan
Posting Komentar